Inilah 5 Hikmah Sa’i dalam Ibadah Haji dan Umrah

Kategori : umrah, Haji, Ditulis pada : 31 Agustus 2023, 18:28:29

Membahas tentang ibadah haji dan umrah tentunya sangat menarik bagi seorang muslim, apalagi untuk Anda yang sedang menyiapkan diri untuk berangkat ke tanah suci. Banyak hikmah yang dapat Anda ambil dari perjalanan ibadah haji dan umrah. Selain menambah spiritualitas Anda, Anda bisa memaknai rangkaian ibadah yang Anda tunaikan saat di tanah suci.

terlebih saat menunaikan rukun-rukun haji dan umrah, diantaranya adalah rukun sa’i. Sa’i adalah rukun ketiga selepas ihram dan thawaf. Serupa dengan rukun-rukun yang lain, sa’i memiliki karakteristik khusus dalam aktivitasnya. Istimewanya lagi, Anda dapat memetik hikmah dari sejarah mengapa sa’i menjadi rukun yang tidak boleh Anda lewatkan.

16.jpg

Photo by Mohamed Nohassi on Unsplash

Menurut bahasa, sa’i artinya usaha. Sedangkan rukun sa’i yang kita kenal adalah berjalan cepat bolak-balik sebanyak 7 kali antara bukit Shafa dan Marwa, dimulai dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwa.

Jarak antara bukit Shafa dan Marwa yaitu sejauh 400 meter, jadi total menempuh jarak  kurang lebih 3 kilometer jika bolak-balik sebanyak 7 kali. Tentunya, Anda wajib memiliki persiapan kesehatan tubuh sebelum melaksanakan rukun ini. Misalnya, olahraga dengan teratur seperti berjalan sekian langkah per hari, jogging atau lari setiap pagi, atau lainnya yang dapat menambah kekuatan fisik Anda. Sehingga tubuh Anda jauh lebih stabil ketika menunaikan rukun haji dan umrah seperti sa’i.

Sejarah Rukun Sa’i

Bila menilik sejarahnya, rukun sa’i ini berawal dari kisah Nabi Ibrahim saat diperintahkan oleh Allah SWT untuk pindah dari Palestina ke lembah tandus bernama Makkah. Saat itu, merupakan hal yang berat untuk Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan istri dan anaknya, Siti Hajar dan Ismail kecil di tanah yang tandus nyaris tiada kehidupan di sana.

Siti Hajar hanya pasrah berjalan mengikuti suaminya, pun saat Nabi Ibrahim pergi meninggalkannya di Makkah. Siti Hajar bingung dengan apa yang terjadi, berkali-kali ia menanyakan pada Nabi Ibrahim yang enggan menjawab. Kemudian ia bertanya, “Hendak kemanakah Engkau, wahai Ibrahim?” Namun Nabi Ibrahim tetap diam.

Hinga Siti Hajar bertanya, “Kepada siapakah kami ditinggalkan di lembah ini? Apakah Allah SWT yang memberimu perintah, wahai Ibrahim?” Kemudian Nabi Ibrahim menjawab, “Ya, Allah yang memerintahku.” Dengan wajah yang bahagia kemudian ibunda Ismail menjawab, “Laa Yudhoiyyuna ya Allah,” yang artinya ‘Allah tidak akan menelantarkan kami.

Nabi Ibrahim pun pergi ke Palestina. Meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil di lembah tandus tersebut demi ketaatannya kepada Allah SWT. Ia mengembalikan segala urusan pada Allah. Siti Hajar, sebagai istri yang shalihah juga beriman kepada Allah SWT yakin bahwa dirinya akan ditolong oleh Allah.

Selama berhari-hari ia berusaha untuk bertahan hidup dengan perbekalan yang ia bawa. Hingga suatu hari perbekalannya sudah habis, Ismail kecil juga terus menangis karena air susunya tidak keluar. Kemudian, Siti Hajar berusaha mencari sumber air di antara dua bukit yaitu bukit Shafa dan bukit Marwa.

Siti Hajar berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwa tanpa tahu di mana letak sumber air, hanya fatamorgana yang tampak. Ia bolak-balik sebanyak 7 kali, sambil terus memohon kepada Allah, yakin Allah akan memberikan pertolongan kepadanya. Tentu saja, Allah hadirkan pertolongan-Nya di saat yang tepat.

Tak disangka, Siti Hajar telah berjalan bolak-balik Shafa dan Marwa, tapi Allah justru menghadirkan sumber mata air dari bawah kaki kecil Ismail yang menendang-nendang, Sumber air tersebut sangat melimpah, bahkan hingga sekarang masih bisa Anda temuki yang dikenal dengan Air Zam-zam. Sungguh luar biasa, jika Allah telah menghendaki apapun bisa menjadi kenyataan.

pexels-pixabay-221189.jpg

Foto oleh Pixabay dari Pexels

Nama Zamzam juga memiliki cerita, disebut air zamzam karena sumber air tersebut terus memancar tiada henti bahkan diumpamakan kota Makkah bisa tenggelam jika hal tersebut terus terjadi. Maka, Siti Hajar berucap “Zamzam, zamzam!” yang maknanya, “Kumpullah, kumpullah!’ sehingga mata air tersebut tetap memancar tetapi tidak berlebihan.

Hikmah Rukun Sa’i

Belajar dari Siti Hajar, ada banyak hikmah yang bisa Anda ambil dari rukun sa’i. Berbagai nilai-nilai positif yang dapat Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut beberapa hikmah yang dapat Anda simak:

Belajar Tentang Keimanan

Siti Hajar merupakan salah satu hamba yang dicintai Allah karena keimanannya. Ini terbukti dari respon beliau saat Nabi Ibrahim mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah semata-mata perintah Allah SWT. Ia juga yakin bahwa Allah tak akan menyia-nyiakannya, walaupun secara kasat mata ia tinggal di tanah yang tandus saat itu.

Tawakkal

Siti Hajar juga memperlihatkan betapa ia penuh tawakkal kepada Rabbnya. Berbeda dengan pasrah, tawakkal merupakan sikap menggantungkan segala apa yang terjadi sesuai dengan kemauan Allah. Oleh karena itu, dalam tawakkal juga ada peran ikhtiar Siti Hajar di sana. Tugas kita adalah berikhtiar, tapi soal keputusan Allah yang menentukan. Sehingga tetap memasrahkan diri kepada Allah sebagai satu-satunya penolong dan Yang Maha Menghendaki.

Mendahulukan Ikhtiar

Seperti yang disebutkan di atas, tawakkal tetap disertai dengan usaha. Ibunda Siti Hajar memberi contoh bagaimana ia tiada berputus asa menemukan sumber air antara bukit Shafa dan Marwa. Ia tetap bergerak tanpa henti, diiringi keimanan dan sikap tawakkalnya untuk terus berikhtiar. Sehingga Allah datangkan bantuan mata air zamzam di bawah kaki Ismail kecil.

Jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, Anda boleh berikhtiar dengan cara apapun selama itu dengan cara yang diridhoi Allah. Namun, kadang Allah datangkan solusi dari arah yang tak disangka-sangka. Tidak selalu dari apa yang Anda inginkan, tetapi tetap yakin bahwa itulah yang terbaik menurut Allah.

Ikhlas

Sebagai penutup, dari rukun sa’i Anda bisa belajar tentang keikhlasan. Bagaimana Siti Hajar sangat ikhlas menerima ketetapan takdir yang Allah berikan, taat kepada perintah-Nya dengan ikhlas tanpa mengeluh saat ditinggalkan Nabi Ibrahim, ikhlas merawat Ismail, dan seterusnya. Tanpa adanya keikhlasan, akan sulit rasnya menerima ketetapan Allah, karena sifat manusia yang tak pernah puas.

Nah, itulah hikmah rukun sa’i yang bisa Anda pelajari dari kisah Siti Hajar. Semoga dapat menambah keimanan Anda, serta semakin bersemangat saat menjalankan ibadah haji dan umrah. Semoga bermanfaat!

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id